Sangat Mematikan! Lumpuhkan Ratusan Musuh, Inilah Kisah Lyudmila Pavlichenko—Sniper Wanita dalam Perang Dunia II

www.HorasSumutNews.com – Terbaru Mungkin semua orang belum begitu familiar dengan nama Lyudmila Pavlichenko. Kisahnya bermula di tahun 1957, saat dirinya sudah duduk berdampingan dalam posisi formal dan tegak dengan seorang pria dan wanita yang lebih tua darinya. Diantara dia dan wanita yang satu, hadir sosok pria yang tak diinginkan. Muak dengan situasi itu, ia lalu membawa perempuan yang lebih tua ke dalam sebuah kamar, menguncinya dari dalam meski sang pria berteriak-teriak memprotes. Wanita yang lebih tua itu ialah Eleanor, istri mantan Presiden AS Franklin D Roosevelt.

Lyudmila Pavlichenko lahir pada 12 Juli 1916 di Bila Tserkva, Ukraina, yang saat itu merupakan bagian dari sebuah negara besar bernama Uni Soviet. Di usianya yang 14 tahun, Lyudmila dan keluarganya pindah ke Kiev di mana kemudian dia bergabung dengan Komunitas Relawan untuk Kerja Sama dengan AD, AU dan AL (DOSAAF).

Meski dikenal sebagai sosok siswi yang cemerlang di sekolah, namun siapa sangka jika Lyudmila memiliki bakat lain yang tak luar biasa—menembak. Ya, Lyudmila memiliki kemampuan menembak sasaran dengan sedemikian jitunya. Demikian sebagaimana dilansir dari reportase Kompas.com.

Sejak di bangku sekolah, sosok tomboinya bahkan sudah tampak. Selain kompetitif, Lyudmila gemar bertanding dengan anak laki-laki dalam berbagai jenis olahraga.

Pada 1937, Lyudmila menyelesaikan gelar sarjana sejarah dan mengejar gelar doktor pada 1941 bersamaan dengan saat Jerman menginvasi Uni Soviet.

Saat Jerman memasuki kota Odessa, Lyudmila termasuk para relawan pertama yang mendaftar masuk ke batalion infantri.

Bergabung dengan 2.000 Sniper Wanita

Mulanya, ia ditawari untuk jadi perawat, tapi karena memiliki medali menembak dalam berbagai lomba yang diikutinya beberapa tahun sebelum itu, Lyudmila akhirnya bergabung dalam kesatuan yang terdiri atas 2.000 sniper wanita di AD Uni Soviet.

Lyudmila kemudian bergabung dengan Divisi Senapan Chapayev ke-25 dan langsung dikirim ke garis depan pada awal Agustus 1941 bersenjatakan sepucuk senapan semi-otomatis Tokarev SVT-40.

Dan Lyudmila langsung menunjukkan prestasinya. Di akhir Agustus, dia sudah mencatatkan 100 “pembunuhan” yang terkonfirmasi. Alhasil, Lyudmila langsung dipromosikan menjadi Sersan Senior.

Duel dengan Sniper Jerman

Pada pertengahan Oktober 1941, saat Jerman sudah menguasai Odessa, unit tempur Lyudmila dievakuasi dengan menggunakan kapal ke Sevastopol di Semenanjung Crimea.

Di sanalah, Lyudmila memulai petualangan “counter- sniper” atau berduel dengan para sniper Jerman. Dalam duel-duel, Lyudmila tak jarang harus berdiam diri selama beberapa jam hingga beberapa hari untuk mencari kelengahan lawan.

Hebatnya, Lyudmila selalu menang dalam duel ini. Dia dipastikan telah dengan suksesnya menewaskan 36 orang sniper Jerman.

Duel terpanjangnya memakan waktu selama tiga hari namun Lyudmila bisa memenangkan duel maut itu setelah sang sniper Jerman “terlalu banyak membuat gerakan”.

Atas prestasinya itu, pada Mei 1942 Lyudmila naik pangkat menjadi Letnan dan telah menewaskan 257 orang prajurit Jerman.

Saat menerima penghargaan dan kenaikan pangkatnya Lyudmilla hanya berkomentar singkat, “Saya akan membunuh lebih banyak lagi.”

Diincar Jerman

Saat itu, nama Lyudmila sudah dikenal dan Jerman berusaha untuk membunuh atau setidaknya membuat sang sniper wanita itu berhenti beraksi.

Berbagai cara digunakan termasuk dengan menggunakan pelantang suara, Jerman menawarkan pangkat perwira dan persediaan coklat tak terbatas bagi Lyudmila.

Namun, tawaran itu dibalas Lyudmila dengan membunuh tentara Jerman ke-309. Alhasil, Jerman amat berang dan bertekad akan membunuh lalu memotong tubuh Lyudmila hingga 309 bagian.

Lyudmila menganggap ringan ancaman Jerman. Bahkan dia malah merasa tersanjung karena musuh mengetahui “prestasinya” itu.

Taktik Mengecoh Musuh

Lyudmila sukses karena pada saat itu taktiknya terbilang unik. Dia kerap mengikatkan manekin dengan pakaian mencolok di pepohonan untuk menarik perhatian musuh.

Saat tentara Jerman melepaskan tembakan, Lyudmila membalas dari arah yang tak diketahui pasukan musuhnya.

Biasanya, dia menembak kaki seorang tentara, saat kawan-kawannya datang membantu, barulah Lyudmila menghabisi mereka semua.

Meski jagoan, bukan berarti gadis ini tak pernah tersentuh. Selalu berada di garis depan membuat Lyudmila beberapa kali pernah terluka. Malahan, dia juga harus membayar mahal dengan kehilangan beberapa anggota keluarga, termasuk suami yang dicintainya.

Bersahabat dengan Eleanor Roosevelt

Di Bulan Juni 1942, Lyudmila terluka akibat tembakan mortir Jerman. Setelah pulih, dia “diliburkan” dari tugas tempur dan pada Juli di tahun yang sama dikirim ke AmerikaSerikat dan Kanada dalam misi hubungan baik.

Dia menjadi warga Uni Soviet pertama yang diterima Presiden AS Franklin D Roosevelt di Gedung Putih dan saat itulah persahabatannya dengan Eleanor dimulai.

Berbagai pernyataan Lyudmila di hadapan jurnalis Amerika amat mengejutkan, termasuk dalam sebuah jumpa pers di Chicago.

“Saudara-saudara, saya berusia 25 tahun dan sudah membunuh 309 orang tentara fasis. Apakah kalian tak berpikir sudah terlalu lama bersembunyi di balik punggung saya?” tukas Lyudmila.

Terbukti, perjalanan Lyudmila ke AS dan Kanada sukses besar. Di Kanada, dia disambut ribuan orang dan seorang sesama sniper Uni Soviet di Union Station, Toronto.

Pada November 1942 di Inggris, dia mendapatkan sumbangan dari para pekerja pabrik berupa tiga unit mesin X-ray bernilai 4.516 poundsterling untuk AD Uni Soviet.

Jadi Pelatih Sniper

Setelah pulang kampung, Lyudmila naik pangkat menjadi Mayor dan menerima penghargaan Bintang Emas, dan didaulat menjadi pahlawan Uni Soviet.

Namun, Lyudmila tak pernah lagi dikirim ke medan perang dan kemudian menjadi pelatih para sniper Uni Soviet hingga Perang Dunia II berakhir.

Di akhir perang, dari 2.000 sniper wanita Uni Soviet, hanya 500 orang yang berhasil lolos dari maut dan Lyudmila adalah salah satu dari mereka.

Saat perang berakhir, Lyudmila menyelesaikan studi doktoralnya dan menjadi sejarawan. Dia kemudian bekerja sebagai peneliti untuk AL Uni Soviet, kembali menikah, dan menjalani kehidupan tenang di sebuah apartemen dua kamar.

Dikenang dalam Perangko

Tahun 1957, Eleanor Roosevelt mendapat izin untuk mengunjungi Uni Soviet. Di sana, Eleanor disambut hangat tetapi tak diizinkan bertemu siapapun tanpa pendamping dari pemerintah.

Di Moskwa, Eleanor terus bertanya soal Lyudmila hingga akhirnya dia dibawa untuk mengunjungi sang sahabat di apartemennya.

Lyudmila Pavlichenko meninggal dunia pada 10 Oktober 1974 dalam usia 58 tahun dan dimakamkan di Moskwa.

Dua tahun kemudian, sebuah perangko dengan wajah Lyudmila diterbitkan untuk mengenang jasa sang sniper perempuan paling mematikan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *